Memahami Belanja Besar Liverpool: Jurgen Klopp Menjilat Ludahnya Sendiri?

Memahami Belanja Besar Liverpool: Jurgen Klopp Menjilat Ludahnya Sendiri?

“Jika Anda mendatangkan satu pemain dengan harga 100 juta paun dan dia cedera, maka itu semua menguap,” tutur pelatih Liverpool tersebut. “Saya ingin melakukannya dengan cara berbeda. Saya bahkan akan melakukannya dengan cara berbeda jika bisa menghabiskan uang itu.”

Klopp mengucapkan kalimat yang bernada sindiran itu beberapa saat setelah Manchester United mendatangkan Paul Pogba (89,3 juta paun). Namun dua tahun setelahnya, ia seakan menjilat ludah sendiri. Klopp melakukan hal yang justru kontradiktif dengan yang ia ucapkan sebelumnya. Dan ini tak hanya sekali. Pada Januari 2018, ia mendatangkan seorang bek tengah bernama Virgil van Dijk seharga 75 juta paun dari Southampton. Enam bulan kemudian, ia kembali mendatangkan pemain dengan nominal yang tak beda jauh. Bahkan kali ini ada tiga pemain sekaligus: Naby Keita (54 juta paun), Fabinho (41 juta paun), Alisson Becker (67 juta paun).


Sontak saja, aktivitas belanja Klopp ini mendapat sindiran dari banyak pihak. Salah satunya bahkan dari Manchester United lewat manajer mereka, Jose Mourinho, yang sebelumnya sempat Klopp cibir secara tak langsung lantaran mendatangkan Pogba.

“Anda tahu, saya pikir orang yang bilang itu secara spesifik adalah Jurgen,” kata Mourinho kepada para wartawan yang menanyainya soal belanja besar sebuah klub. “Kalau saya jadi salah satu dari Anda, saya akan tanya dia soal komentarnya tahun lalu.”

Aktivitas belanja Liverpool adalah hal yang wajar

Selain tentu saja kemenangan Real Madrid atas Liverpool yang membuat mereka mencatatkan gelar ke-13, ada dua insiden lain pada final Liga Champions lalu yang menarik untuk disimak. Pertama adalah soal cederanya Mohamed Salah. Saat itu, sang pemain ditarik keluar setelah berbenturan dengan Sergio Ramos di awal-awal pertandingan yang membuat bahu sebelah kirinya cedera.


Jelas saja itu berdampak terhadap permainan Liverpool. Salah adalah pembeda sekaligus pencetak gol terbanyak mereka. Total ia sudah mencetak 44 gol di semua kompetisi hingga saat itu. Maka setelah sang pemain tersebut keluar, bisa ditebak, Liverpool kesulitan mengembangkan permainan. Mereka memang berhasil menciptakan sejumlah peluang, tapi hanya satu yang menjadi gol.

Insiden kedua tentu saja adalah soal Loris Karius. Dari tiga gol yang bersarang ke gawang kiper berkebangsaan Jerman itu, dua di antaranya berasal dari kesalahan konyol yang ia lakukan. Pada menit ke-51, ia memberi bola cuma-cuma kepada Karim Benzema yang tanpa berkeringat bisa dengan mudah mengonversinya menjadi gol. Kemudian di menit ke-84, tepisan yang ia lakukan atas sepakan jarak jauh Gareth Bale kurang sempurna sehingga kembali menjadi gol bagi tim lawan.



Karena itu jelang bergulirnya musim baru, Klopp fokus membenahi dua aspek tersebut. Lalu didatangkanlah Xherdan Shaqiri untuk melapis Salah serta Fabinho dan Naby Keita untuk memperbaiki kedalaman skuat –sekaligus sebagai pengganti hengkangnya Emre Can dan Philipe Coutinho. Sementara untuk posisi kiper, nama yang akhirnya dipilih adalah Alisson Becker.

Bahwa biaya transfer untuk mendatangkan nama-nama itu terbilang tinggi sehingga berkebalikan dengan ucapan Klopp dua tahun lalu adalah hal yang benar. Namun, di masa sekarang, saat harga pemain sepakbola sudah ‘rusak’, dan untuk sebuah tim yang pada tiap musimnya punya target juara, rasanya terlalu naif untuk bertindak idealis dengan, misalnya, tidak akan mengeluarkan uang sebesar 50 sampai 80 juta paun untuk satu pemain.


Bertindak semacam itu hanya akan menghambat usaha menambal berbagai lubang dalam tim. Apalagi strategi yang diterapkan Klopp menuntut pergerakan yang cair, fisik yang prima, serta teknik yang tinggi, dan pemain-pemain yang sesuai dengan spesifikasi itu tak murah harganya.

Terlebih saat ini, tim-tim besar dan bahkan tim-tim medioker sekali pun sudah berlomba-lomba mengeluarkan banyak uang untuk memperbaiki skuat. Everton yang baru saja mendatangkan Richarlison dengan biaya mencapai 40 juta paun adalah satu contohnya. Omong-omong, kamu bahkan tak begitu kenal Richarlison bukan?

Bukti lain betapa kini uang punya pengaruh besar adalah kasus transfer Malcom. Mulanya, pemain asal Brasil yang musim lalu bermain untuk Bordeaux itu sudah diumumkan sebagai pemain AS Roma dengan biaya transfer sebesar 32 juta paun. Ia bahkan sudah akan segera terbang menuju Roma.


Tatkala sang pemain di perjalanan menuju bandara, tiba-tiba saja presiden Barcelona Maria Bartomeu menelpon Stephane Martin, orang tertinggi Bordeux, dan mengajukan tawaran sebesar 39 juta paun untuk Malcom. Mengetahui hal ini, pihak AS Roma buru-buru menaikkan tawaran mereka dengan nominal yang sama dengan tawaran Barcelona.

Akan tetapi, Malcom pada akhirnya berhasil didapat Barcelona. Selain tentunya karena nama besar klub asal Catalan itu, mereka juga menaikkan tawaran menjadi 41 juta paun sekaligus menawarkan gaji yang lebih tinggi ketimbang AS Roma.

Singkat kata, di masa sekarang akan sulit bersaing jika tidak memiliki kondisi finansial mumpuni atau tidak berani mengeluarkan banyak uang. Lihat saja deretan peraih juara di lima liga top Eropa dalam lima musim terakhir yang didominasi tim yang per musimnya nyaris menghamburkan 100 juta paun. Satu-satunya tim yang tidak mengeluarkan banyak uang untuk meraih juara adalah Leicester City di Premier League pada musim 2015-16 lalu. Oh, AS Monaco juga, kendati sebetulnya mereka terbilang tim berduit.


Klopp sendiri, sementara itu, mungkin saja bisa mengikuti jejak tim macam Leicester atau Monaco. Dengan segala kejeniusannya, ia bisa membangun skuatnya sendiri dengan, misalnya, pemain-pemain dari akademi atau pemain-pemain muda tak terkenal seperti yang dulu biasa ia lakukan di Borussia Dortmund.

Tapi yang jadi masalah, Dortmund dan Liverpool adalah dua tim berbeda dalam banyak hal. Di Dortmund, ia bisa membangun skuat secara perlahan sebab memang saat baru melatih di sana, Dortmund bukanlah pesaing utama Bayern Munchen dalam meraih juara sehingga tuntutan yang ia dapat juga tak muluk-muluk. Selain itu, Dortmund juga bukan klub yang punya duit segudang.


Faktor lain yang membuat Klopp mesti melakukan belanja besar-besaran ini adalah karena ia berada di liga yang para kontestannya memang gemar menghamburkan-hamburkan uang demi mendapat prestasi. Misalnya saja Manchester City yang dalam dua musim terakhir total telah mengeluarkan 200 hingga 300-an juta euro dan hasilnya adalah dua gelar juara Premier League (2013-14 dan 2017-18). Chelsea pun tak berbeda jauh. Dalam lima musim terakhir, mereka juga dua kali menjuarai Premier League (2014-15, 2016-17).


Bayangkan, sementara tim-tim besar lain mengeluarkan banyak uang untuk membeli pemain bintang demi meraih gelar juara, akan jadi seperti apa Liverpool andai tak melakukannya? Mereka mungkin bisa tetap sukses. Tapi kemungkinannya lebih kecil dibandingkan dengan jika mereka belanja besar demi membeli pemain bintang.

“Kami tak peduli apa yang orang-orang pikirkan tentang kami (mengeluarkan banyak uang untuk membeli pemain bintang), seperti Manchester United tidak peduli tentang apa yang pernah saya katakan,” tutur Klopp.

“Pertama dan yang utama tanggung jawab saya adalah membuat klub ini sukses sebisa mungkin. Bukan soal mendorong opini atau berkata ‘tidak, saya tidak ingin membeli pemain, saya tak ingin mengeluarkan banyak uang’ dan pada akhirnya Liverpool tidak sukses,” katanya lagi. “Kami memiliki tim yang sangat bagus, skuat yang sangat bagus, dan untuk berkembang itu mahal. Untuk mencari pemain yang lebih baik dari yang sudah kami miliki itu tidak sama seperti sekadar menunggu di pojokan.”


Omong-omong, memang benar bahwa ada tim-tim besar, terutama di Premier League, yang berusaha untuk berhemat selagi yang lain terbilang boros. Arsenal, misalnya. Tapi kamu tahu sendiri bagaimana nasib mereka, bukan?




Contact Us

Nama

Email *

Pesan *